HIMAKONVO #2 : Merauke Berduka. Lumbung Pangan Tiba, Paru-Paru Sirna
HIMAKONVO #2 : Merauke Berduka. Lumbung Pangan Tiba, Paru-Paru Sirna
Dari Rimba ke Tanah Merah: Jejak Deforestasi di Balik Proyek Pangan Nasional

Hutan Papua seringkali diromantisasi sebagai surga keanekaragaman hayati dan paru-paru terakhir Nusantara. Namun, dibalik gaung Proyek Strategis Nasional (PSN) yang menjanjikan ketahanan pangan, realitas di ujung timur Indonesia justru menampilkan lanskap yang memilukan. Hamparan hijau hutan primer yang menyimpan ribuan misteri kehidupan kini harus berhadapan dengan deru mesin dan barisan ekskavator. Di Merauke, ambisi mencetak food estate raksasa secara perlahan mengupas bentang alam, mengubah rawa yang kaya air dan tajuk pohon yang rimbun menjadi tanah merah yang gersang.
Realita di lapangan menunjukkan angka yang tidak bisa dipandang sebelah mata. Berdasarkan temuan terbaru hingga awal 2026, pembukaan lahan untuk mega proyek perkebunan tebu di Distrik Jagebob dan Tanah Miring telah mencapai lebih dari 31.000 hektar. Ironisnya, lebih dari 15.000 hektar di antaranya adalah hasil deforestasi murni yang secara langsung meratakan hutan alam. Ini bukanlah sekadar angka statistik dalam laporan pemerintah, melainkan laju kehancuran masif yang setara dengan hilangnya ribuan lapangan sepak bola dalam sekejap mata. Jika target perluasan lahan yang diperkirakan bisa mencapai jutaan hektar ini terus dilanjutkan, kerusakan ini akan menjadi bencana ekologis yang tak dapat dipulihkan.
Dari kacamata ekologi dan konservasi, hutan Merauke sama sekali bukan “tanah kosong” yang siap dikonversi menjadi ladang monokultur. Ekosistem ini merupakan rumah abadi bagi satwa-satwa endemik yang sangat rentan, seperti Burung Kasuari (Casuarius casuarius) dan Kanguru Pohon (Dendrolagus). Ketika alat berat merobohkan tegakan pohon, koridor hidupan liar terputus dan habitat mereka hancur berkeping-keping. Lebih jauh lagi, sistem lahan basah dan rawa di kawasan ini berfungsi sebagai spons raksasa yang menyaring air secara alami. Kehancurannya secara langsung mengancam keseimbangan hidrologis yang selama ini menopang seluruh jaring-jaring makanan di wilayah tersebut.
Lebih tragis lagi, dampak penghancuran ini turut mengubur identitas dan hak hidup masyarakat adat, khususnya Suku Marind. Bagi mereka, hutan adalah “ibu” yang menyediakan segala kebutuhan hidup, mulai dari sumber air bersih hingga pangan lokal yang melimpah seperti sagu. Pemaksaan sistem pangan industri dari luar yang menggantikan sistem pangan lokal memunculkan praktek gastro kolonialisme. Alih-alih membawa kesejahteraan yang dijanjikan, masyarakat adat justru terpinggirkan dari tanah leluhurnya sendiri dan kehilangan sumber kehidupan tanpa pernah dilibatkan dalam dialog yang adil dan setara.
Skala kerusakan di Merauke juga memicu ancaman krisis iklim global yang kian nyata. Mengubah tutupan hutan alam menjadi perkebunan tebu monokultur berpotensi melepaskan hingga ratusan juta ton emisi karbon ke atmosfer, sebuah langkah mundur yang bertolak belakang dengan komitmen penurunan emisi gas rumah kaca. Dampak destruktif ini bahkan telah memicu teguran dari komunitas internasional, di mana organisasi masyarakat sipil mulai membawa kasus ini untuk dievaluasi di bawah regulasi bebas deforestasi Uni Eropa (EUDR). Hal ini menjadi peringatan keras bahwa komoditas yang lahir dari atas tanah rampasan ekologis tidak akan mendapat tempat di pasar global.
Mengangkat kesadaran terhadap krisis di Merauke adalah langkah esensial untuk menghentikan laju kerusakan ini. Ketahanan pangan sejati tidak akan pernah bisa dibangun di atas puing-puing kehancuran ekosistem dan penderitaan masyarakat adat. Sudah saatnya publik menyadari bahwa pembangunan harus memprioritaskan pelestarian sumber daya hutan dan menghargai ruang hidup masyarakat lokal. Menyuarakan realita di Merauke hari ini berarti kita sedang berjuang mempertahankan sisa nafas terakhir dari benteng pertahanan iklim di ujung timur Indonesia.
Menyelamatkan Merauke hari ini bukan hanya tentang menjaga hutan, tapi tentang menentukan seperti apa masa depan yang ingin kita pilih.
Referensi
Rekomendasi Komnas HAM RI, Satya Bumi: Alarm Keras Hentikan PSN Merauke
https://mongabay.co.id/2026/03/13/jejak-ambisi-food-estate-yang-menggerus-hutan-papua/amp/
https://pusaka.or.id/wp-content/uploads/2024/09/2022-Laporan-Dokumentasi-_-Torang-Semua-ini-Hanya-Jadi-Penonton-Saja-Pusaka-Bentala-Rakyat.pdf
https://www.kompas.id/artikel/organisasi-masyarakat-sipil-adukan-deforestasi-di-papua-ke-uni-eropa
