Hari Penanggulangan Degradasi Lahan dan Kekeringan Sedunia
Hari Penanggulangan Degradasi Lahan dan Kekeringan Sedunia
Halo sobat konservasionis! Tahukah kalian kalau hari penanggulangan degradasi lahan dan kekeringan sedunia diperingati setiap tanggal 17 Juni?
Apa itu Degradasi Lahan?
Degradasi lahan adalah penurunan kualitas lahan akibat aktivitas manusia yang berlebihan atau pengelolaan yang buruk. Di sektor kehutanan, lahan terdegradasi disebut juga lahan kritis (critical land), yaitu lahan atau hutan yang fungsinya menurun karena penggunaannya melampaui daya dukungnya (Wahyunto 2014).
Studi Kasus: Raja Ampat dan Ancaman Pertambangan
Raja Ampat adalah kawasan yang kaya akan keanekaragaman hayati, namun terancam oleh kegiatan pertambangan. Contoh nyata degradasi lahan dan kekeringan bisa dilihat dari dampak industri tambang di wilayah ini.
Lahirnya Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2009 Tentang Pertambangan Mineral dan Batu Bara (Minerba) dengan sistem Undang-Undang yang baru didalamnya, diharapkan dapat membawa perbaikan dalam pengelolaan sektor pertambangan di Indonesia (Listiyani 2017).
Dampak Aktivitas Pertambangan
Menurut Abrar Saleng, dampak negatif pertambangan terhadap lingkungan antara lain (Listiyani 2017):
- Kerusakan topografi dan keseimbangan ekosistem akibat perubahan bentuk muka tanah (land impact).
- Pencemaran lingkungan oleh debu, asap, air limbah, dan zat kimia dari buangan tambang.
- Ancaman keselamatan seperti longsor, ledakan, atau gempa karena kondisi geologi yang terganggu.
Akibat
Pada dasarnya degradasi lahan disebabkan karena adanya penggunaan dan/atau pengelolaan lahan yang kurang tepat. Degradasi lahan biasanya dimulai dengan adanya konversi (alih fungsi) penggunaan lahan, dari lahan hutan untuk keperluan lain seperti penambangan (Anggraini et al. 2020). Berdasarkan data, penambangan nikel di raja ampat sudah mengkonversi lahan lebih dari 500 hektar.
Penutup
Raja Ampat adalah pusat keanekaragaman hayati dunia bukan sekadar destinasi wisata. Dari survei The Nature Conservancy (TNC) dan Conservation International, menunjukkan bahwa 75% spesies laut dunia hidup di perairan Raja Ampat. Wilayah ini memiliki lebih dari 550 spesies karang, 1.427 spesies ikan, dan 700 lebih jenis moluska (Setyawan 2025).
Referensi
- Angraini F, Selpiyanti S, Walid A. 2020. Dampak alih fungsi lahan terhadap degradasi lingkungan: studi kasus lahan pertanian sawah menjadi lahan non pertanian. Jurnal Swarnabhumi. 5(2):35-38.
- Listiyani N. 2017. Dampak pertambangan terhadap lingkungan hidup di Kalimantan Selatan dan implikasinya bagi hak-hak warga negara. Al’adl. 9(1):67-75.
- Setyawan WE. 2025 Jun 7. Nikel Raja Ampat Mempercepat Laju Krisis Iklim. Forest Digest. [diakses 2025 Jun 12]. https://www.forestdigest.com/detail/2749/tambang-nikel-raja-ampat-krisis-iklim
- Wahyunto, Dariah A. 2014. Degradasi lahan di Indonesia: kondisi existing, karakteristik, dan penyeragaman definisi mendukung gerakan menuju satu peta. Jurnal Sumberdaya Lahan. 8(2):81-93.
